Nuansa kehidupan rumah tangga kadang tidak selalu tertuju pada suami,
isteri, atau anak-anak. Kadang, kehadiran sosok lain di luar itu pun
bisa membuat keluarga berwarna agak lain.Itulah yang kini dialami keluarga Bu Sari. Ibu tiga anak ini kini tidak lagi sekadar direpotkan oleh melayani suami dan anak-anak, tapi juga ibu kandungnya. Setelah ayah Bu Sari meninggal dunia, tak ada lagi tempat berlabuh bagi ibu dari Bu Sari kecuali rumah tangga Bu Sari sendiri.
Bagi Bu Sari, dinamika hidup tak ubahnya seperti pergantian peran. Dari yang dulunya dilayani, kini berganti menjadi melayani. Dulunya ia yang dilayani sang ibu, kini, Bu Sarilah yang harus melayani sang ibu.
Cuma bedanya, kalau dulu Bu Sari dilayani ketika fisik dan jiwanya memang masih kanak-kanak. Tapi kini, jiwa ibu dari Bu Sarilah yang seolah kembali seperti anak-anak.
Dan pilihan kenapa harus Bu Sari yang melayani sang ibu dan bukan ke kakak-kakak Bu Sari, murni, karena keinginan sang ibu. Walaupun, dari segi kelayakan dan kenyamanan tempat tinggal, rumah Bu Sari tergolong yang biasa-biasa saja dibanding rumah kakak-kakaknya.
Satu hal yang begitu dominan dari hobi ibu Bu Sari boleh dibilang unik dan lain dari yang lain. Bukan membuat karya anyaman, bukan juga kreasi jahit menjahit, bukan pula ngerumpi ke tetangga; tapi begitu tergila-gila dengan drama.
Bagi Bu Sari dan suami, kecenderungan ini bisa dianggap wajar. Karena mereka paham kalau itu merupakan dunia yang begitu akrab dengan sang ibu ketika muda dulu. Sang ibu memang sudah begitu lama mondar-mandir ke sanggar-sanggar drama. Dan itu, tidak lagi berlanjut ketika ibu Bu Sari punya momongan yang secara beruntun hadir tiap dua tahun sekali.
“Ah payah, pemainnya kurang berkarakter!” ucap sang ibu sambil pandangannya ke arah tayangan sinetron.
Kalau sudah begitu, anak-anak paham betul untuk tidak berdekat-dekat dengan neneknya. Karena sang nenek yang biasanya lucu dengan begitu banyak canda, akan berubah menjadi pemarah.
Kadang, keluarga Bu Sari harus terkejut bersama ketika di malam yang senyap, tiba-tiba sang ibu bersuara keras. Dan mereka pun akhirnya memaklumi, karena sang ibu bukan lagi mengigau atau marah tanpa sebab. Tapi, sedang berlatih untuk memerankan tokoh tertentu.
Dalam keseharian, hobi sang ibu sebenarnya sangat disukai anak-anak Bu Sari. Dengan kemampuannya memerankan tokoh tertentu, sang nenek begitu menjiwai berperan sebagai tokoh tertentu dalam cerita dongeng. Anak-anak bisa merasakan ketegangan yang diekspresikan sang nenek, dan bisa juga tertawa geli ketika sang nenek mengekspresikan kelucuan.
Itulah sebabnya, anak-anak Bu Sari lebih suka ‘menonton’ akting neneknya daripada menyaksikan tayangan televisi.
Isu tarik ulur kenaikan harga BBM akhir-akihr ini, ternyata ikut dirasakan keluarga Bu Sari. Selain harga-harga sembako yang tidak stabil di pasar, maraknya demo di jalan raya pun kerap mengkhawatirkan Bu Sari.
Bu Sari dan suami terus mengawasi perkembangan isu tersebut melalui berita-berita di televisi. “Masya Allah, memprihatinkan sekali ya, Mas!” ucap Bu Sari kepada suaminya yang disambut anggukan sang suami.
Di suatu malam, sayup-sayup terdengar di telinga Bu Sari seperti suara tayangan televisi. Dan ia pun langsung terbangun. Pasalnya, saat itu malam sudah hampir berganti pagi: jam dua dini hari, sementara suami Bu Sari sedang asyik tidur. “Siapa yang malam-malam begini nonton tivi?” bisik batin Bu Sari.
Dengan penuh tanda tanya, Bu Sari keluar kamar untuk melihat keadaan ruangan di mana pesawat televisi berada. Dan ia pun terkejut karena sang ibu begitu asyik menatap televisi.
Yang membuat Bu Sari terkejut bukan karena sang ibu menonton tivi. Tapi, selain karena larut malam yang hampir tidak pernah dilakukan ibunya hanya untuk sekadar nonton tivi, acara yang ditonton pun tergolong sesuatu yang nyaris tidak pernah ditonton ibunya.
“Bu, sejak kapan ibu senang dengan acara politik?” ucap Bu Sari kepada ibunya dengan nada lembut. Ia khawatir kalau ibu sudah beralih kepada hobi politik. Wah, bisa berabe.
“Sari, ini acara luar biasa. Bagus banget!” ucap sang ibu dengan penuh ekspresi serius.
“Tapi Bu, itu kan sidang paripurna DPR. Kok tumben ibu tertarik sama politik?” suara Bu Sari kemudian.
“Jangan lihat temanya. Tapi perhatikan peran-peran yang mereka mainkan. Wah, luar biasa. Mereka begitu berkarakter. Belum pernah aku melihat drama sehebat ini, anakku!” ungkap sang ibu sambil pandangannya tetap ke arah tayangan televisi. (muhammadnuh@eramuslim.com)